Ridho Terhadap Musibah
Melahirkan Hidayah
Bismillah, Assalamu’alaykum warahmatulloh...
Pena di angkat dan mengering seperti itulah takdir. Semua insan
pasti mempunyai takdir masing-masing. Takdir baik dan takdir tidak baik, baik
takdir yang tidak bisa dirubah oleh manusia dan takdir yang bisa dirubah oleh
manusia dengan ikhtiyar dan do’anya. Yang Alloh ciptakan pertama kali
adalah pena dan Alloh Ta’ala memerintahkan pena untuk menulis dari awal
penciptaan hingga nanti datangnya hari Kiamat itu sudah tertulis dalam kitab Lauhul
Mahfudz.
Hari Jum’at (11 September 2015) kemarin adalah hari dimana Alloh
memberikan cobaan kepadaku. Alloh sangat sayang dan cinta kepadaku karena Dia
masih memberikan cobaan kepadaku dan Alloh ingin memberikan pahala tanpa batas
bagi hamba-Nya yang bersabar. Kehilangan handphone yang memang harganya
tidak mahal sekitar 200 ribu-an. Tapi bagi aku handphone seharga
tersebut sudah sangat cukup untukku karena buat aku pribadi yang penting bisa
buat komunikasi kepada sanak saudara. Aku sadar setelah ingin sms teman
dan mencari dimana-mana tak menemukanya. Aku berusaha mengingatnya dan aku
menyadari bahwa aku sempat berada di salah satu mushola dekat kost, Qodarrullohhandphone
tersebut sudah tidak ada. Ada ibu-ibu yang sedang duduk di serambi mushola, aku
pun bertanya,
Aku : Maaf bu, apa ibu tadi sholat di mushola ini (saat
itu sekitar jam 9 nan)
Ibu : Iya
Aku : Maaf apa ibu
mengetahui ada handphone yang tertinggal di sini ?
Ibu : Ndak tahu
saya
Akhirnyaaku pun berterima kasih karena sudah mendapat info dan aku
balik ke kost. Sampai kost saat de’ Saif (anakku yang berusia 5 bulan) sedang
tidur, tidak terasa air mata pun berjatuhan di pipi entah karena merasa kecewa
atau apa aku sendiri pun tidak mengetahuinya. Ingin marah tapi marah kepada
siapa? Akhirnya aku pun berkata kepada diriku sendiri “semua ini takdir Alloh,
yakin Alloh pasti telah menyiapkan ganti yang lebih bagus untukku”. Aku pun
teringat salah satu hadits Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam yang
di ucapakan saat tertimpa musibah :
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيْبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
(Inna
lillahi wa innaa ilaihi rooji’uuna. Allohumma’jurnii fi musiibatii wakhluf lii
khoiroon minha)
Artinya :” Sesungguhnya kami adalah milik Alloh dan kepada-Nyalah kami kembali. Ya
Alloh berikanlah pahala kepadaku di dalam musibah (yang) menimpaku dan gantilah
dengan yang lebih baik darinya ”.
Ya semua itu Qodarrullah yang telah Alloh siapkan bagiku.Alloh Ta’ala
berfirman yang artinya
“Tidaklah ada sebuah musibah yang
menimpa kecuali dengan izin Alloh. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh
(bersabar) niscaya Aloah akan memberikan hidayah kepada hatinya. Alloh-lah Yang
Maha Mengetahui segala sesuatu.”(QS At Taghaabun: 11)
Syaikh Muhammad bin
Abdul ‘Aziz Al Qar’awi mengatakan, “Di dalam ayat ini Alloh Subhanahu wa Ta’ala
menginformasikan bahwa seluruh musibah yang menimpa seorang individu di antara
umat manusia, baik yang terkait dengan dirinya, hartanya atau yang lainnya
hanya bisa terjadi dengan sebab takdir dari Alloh. Sedangkan ketetapan takdir
Alloh itu pasti terlaksana tidak bisa dielakkan. Alloh juga menyinggung barang
siapa yang tulus mengakui bahwa musibah ini terjadi dengan ketetapan dan takdir
Alloh niscaya Alloh akan memberikan taufik kepadanya sehingga mampu untuk
merasa ridho dan bersikap tenang tatkala menghadapinya karena yakin terhadap
kebijaksanaan Alloh. Sebab Alloh itu Maha Mengetahui segala hal yang dapat
membuat hamba-hamba-Nya menjadi baik. Dia juga Maha Lembut lagi Maha Penyayang
terhadap mereka.” (Al Jadiid, hal. 313).
Alqamah, salah
seorang pembesar tabi’in, mengatakan, “Ayat ini berbicara tentang seorang
lelaki yang tertimpa musibah dan dia menyadari bahwa musibah itu berasal dari
sisi Alloh maka dia pun merasa ridho dan bersikap pasrah kepada-Nya.”
Syaikh Shalih bin
Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah ta’ala mengatakan dalam
penjelasannya tentang perkataan Alqamah ini:
“Ini
merupakan tafsir dari Alqamah -salah seorang tabi’in (murid sahabat)- terhadap
ayat ini. Ini merupakan penafsiran yang benar dan lurus. Hal itu disebabkan
firman-Nya, ‘Barangsiapa yang beriman kepada Alloh niscaya Alloh akan
memberikan hidayah ke dalam hatinya,’ disebutkan dalam konteks
ditimpakannya musibah sebagai ujian bagi hamba. ‘Barangsiapa yang beriman
kepada Alloh,’ artinya ia mengagungkan Alloh Jalla wa ‘ala dan
melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. ‘Niscaya Alloh akan memberikan
hidayah ke dalam hatinya,’ yakni supaya bersabar. ‘Alloh akan memberikan
hidayah ke dalam hatinya’ supaya tidak merasa marah dan tidak terima. ‘Allah
akan memberikan hidayah ke dalam hatinya,’ yakni untuk menunaikan berbagai
macam ibadah. Oleh sebab itulah beliau (Alqamah) berkata, ‘Ayat ini
berbicara tentang seorang lelaki yang tertimpa musibah dan karena dia menyadari
bahwa musibah itu berasal dari sisi Alloh maka dia pun merasa ridho dan
bersikap pasrah kepada-Nya.’ Inilah kandungan iman kepada Allaoh; ridho dan
pasrah kepada Alloh.” (At Tamhiid, hal. 391-392).
Dari ayat di atas
kita dapat memetik banyak pelajaran berharga, di antaranya adalah:
- Keburukan itu juga termasuk perkara yang sudah ditakdirkan ada oleh Alloh, sebagaimana halnya kebaikan.
- Penjelasan agungnya nikmat iman. Iman itulah yang menjadi sebab hati dapat meraih hidayah dan merasakan ketenteraman diri.
- Penjelasan tentang ilmu Alloh yang meliputi segala sesuatu.
- Balasan suatu kebaikan adalah kebaikan lain sesudahnya.
- Hidayah taufik merupakan hak prerogatif Alloh Ta’ala.(Al Jadiid, hal. 314).
Saat kita tertimpa
suatu musibah atau sesuatu yang tidak menyenangkan bagi diri kita, harta kita.
Selayaknya bagi seorang muslim adalah bersabar atas musibah tersebut. Meyakini bahwa
segala sesuatu yang menimpa diri kita baik itu hal baik atau hal tidak naik
pasti sudah atas izin-Nya. Semoga kita termasuk orang yang bersabar dalam
mengahadapi segala musibah. Aamiin.
Wassalamu'alykum
warahmatulloh...
Ps: Sebagian me-repost dari artikel Muslim.or.id
》Ikov_Bia《



0 komentar