Sebut saja aku pecundang dan kamu pemenang.
Melupakanmu ternyata bukan hal yang gampang. Waktu yang sudah kulewati
ternayata sudah tak terbilang. Mengikhlaskanmu masih belum kutemukan jalan
terang. Pergi darimu, belum juga kutemui arah pulang.
Di hari kesekian setelah aku mulai kehabisan makna, kamu
mendekat dengan hati penuh doa.
Aku seperti dahaga di gurun pasir ternama, kamu melangkah dengan tatapan sedalam samudera.
Aku seperti dahaga di gurun pasir ternama, kamu melangkah dengan tatapan sedalam samudera.
Saat itu aku percaya
bahwa meninggalkanmu adalah keputusan terbaik. Dengan segala macam debat yang
tak kunjung usai, meletakkan kita dalam ujung cerita adalah satu-satunya cara
untuk memperbaiki. Bukan, mungkin lebih tepatnya, melepaskan yang tak mampu kita
rangkai utuh kembali.
Aku pernah berjalan pada suatu jalan yang
awalnya begitu mulus. Ditemani oleh seseorang yang aku cintai begitu tulus. Saat
itu, aku merasa waktu begitu cepat berlalu, detik demi detiknya tidak pernah
bergitu terdengar, semuanya larut dalam binar-binar kebahagiaan.
Suatu hari nanti kamu akan mencariku. Aku
yang dulu yang selalu ada kapanpun dan dimanapun. Karena pergi menjadi pilihan
yang menarik bagimu. Sudahkah kamu berbincang dengan dirimu sendiri, sayangku? Sudahkah
kamu bertanya pada hatimu tentang aku? Janganlah memelas menyesali kekhilafanmu
di depanku, kelak.
Hai orang-orang yang
beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allaah
beserta orang-orang yang sabar.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian
malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Alloh) bagi orang-orang yang
berakal”
(QS. Ali ‘Imran : 190)
“Sesungguhnya Alloh
tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian,tapi ia melihat hati dan amal
kalian.”
(HR. Muslim)
Pulang dari Surabaya kemarin benar-benar
meninggalkan kesan yang takkan terlupakan bagiku. Goresan kenangan itu
benar-benar menancap dalam qalbu.
Siang, ditengah terik panasnya matahari di kota
Surakarta a.k.a Solo yang semakin panas hingga membuat kulit ini hitam legam,
muncullah sosok yang begitu membuatku bangga akan kedua orang tuaku. Seketika
itu, aku teringat mereka dan aku berdoa dalam hatiku, ya Allah ampunilah dosa
mereka dan mudahkanlah segala urusan mereka. Duhai abi dan ummi maafkanlah
anakmu ini yang belum bisa membanggakan kalian. Hampir saja aku menangis tapi
aku tahan air mataku.
Dalam liburan Jum’at Oktober 2014, saya
berkesempatan ke Banguntapan untuk ‘nyandi’, istilah untuk kegiatan mengunjungi dan menikmati
candi yang bertaburan di sekitar Yogya. Kegiatan yang aneh bagi sebagian orang
namun sangat ngangeni bagi saya, rasanya seperti orang yang baru pacaran. Meskipun saat itu saya baru hamil dengan usia kandungan 3 bulan, tapi hal
itu tidak menyurutkan antusias saya untuk berburu candi. Dan sore itu langsung
saja saya menuju jalan Wonosari untuk melihat sebuah situs Watu Gilang yang
memiliki relief yang sangat menarik dan eksotis.


















