Seorang Muslim meyakini bahwa siapapun dari zaman sekarang yang mati dalam keadaan kufur kepada risalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak mengimani Beliau, maka temapt kembalinya dipastikan adalah Neraka dan akan berada di dalamnya selama-lamanya. Adanya kepastian Neraka menjadi tempat tinggal orang kafir kelak, maka perlakuan seorang Muslim terhadap kubur orang kafir dan orang yang berada di dalam kubur itu pun berbeda.
Di antaranya, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam pernah memberikan petunjuk kepada seorang A’rabi RadhiyAllôhu
‘anhu saat melewati kubur orang kafir. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
إذامرر ت بقبر كافر فبشره با لنار
“ Bila engkau melewati kubur orang kafir, maka
beritakanlah kepadanya neraka “. (HR. ath-Thabraani 1/19/1. Ash-Shahihah
no.8).
Demikianlah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam bagi seorang Muslim yang melewati kubur orang-orang
kafir. Satu petunjuk yang kurang diketahui oleh sebagian kaum Muslimin.
Syaikh al-Albâni rahimahullah
mengatakan, “Hadits ini memuat satu pelajaran yang penting yang dilupakan oleh
buku-buku fiqh. Yaitu, disyari’atkannya menyebutkan neraka sebagi tempat
tinggal orang kafir bila melewati kuburnya. Syari’at ini jelas akan menyadarkan
seorang mukmin dan mengingatkannya tentang amat berbahayanya kejahatan orang
kafir (kepada Allôh Ta’ala) karna ia telah berbuat dosa besar yang mengalahkan
seluruh dosa di dunia di hadapan-Nya, meskipun seluruh dosa itu dikumpulkan
menjadi satu, yaitu dosa kekufuran kepada Allôh Ta’ala dan mempersekutukan-Nya
yang Allôh Ta’ala menjelaskan betapa besarnya kemurkaan Allôh Ta’ala terhadap
perbutan tersebut ketika mengecualikannya dari mendapatkan ampunan.
Allôh Ta’ala berfirman :
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ
ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ
“ Sesungguhnya Allôh tidak akan mengampuni
dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi
siapa yang dikehendaki-Nya. “ (QS: an-Nisaa’ : 48)
Oleh sebab itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
أكبر الكبائر أن تجعل للّه نداوقد خلقك
“ Dosa besar yang paling besar adalah engkau
menjadikan bagi Allah tandingan, padahal Dia telah menciptakanmu ”. (Muttafaqun
‘alaih)
Ketidaktahuan akan petunjuk ini termasuk
faktour yang menyebabkan kaum Muslimin terjatuh dalam hal yang berseberangan
dengan petunjuk yang dikehendaki oleh Penentu syari’at Yang Maha Bijaksana (Allôh
Ta’ala). Sesungguhnya kami telah melihat banyak kaum Muslimin mendatangi
negri-negri kafir untuk menyelesaikan urusan-urusan pribadi mereka atau urusan
umum. Mereka tidak hanya sibuk untuk menyelesaikan urusan-urusan tersebut, akan
tetapi juga sengaja mendatangi sebagian kubur orang-orang kafir yang dianggap
sebagai tokoh besar (dari negri tersebut), dan kemudian meletakkan karangan
bunga di depan kuburan mereka dan berdiri dengan hening lagi tampak sedih di
hadapan kuburan. Suatu tindakan yang menunjukkan keridhoan mereka dan hilangnya
rasa marah kepada tokoh-tokoh kufur
tersebut. Padahal, sikap keteladanan yang baik dari para Nabi ‘Alaihimussalam
menegaskan penentangan terhadap sikap-sikap tersebut, sebagimana disebutkan
dalam hadits shahih dalam pembahasan ini.
Allôh Ta’ala berfirman, yang artinya :
“ Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang
baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka
berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu
dari daripada apa yang kamu sembah selain Allôh, kami ingkari (kekafiran)mu dan
telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya
sampai kamu beriman kepada Allôh saja.” (QS : al-Mumtahanah :04)
Bila demikian sikap para Nabi terhadap
orang-orang kafir ketika masih hidup, maka dapat diketahui pula ketegasan sikap
mereka terhadap orang-orang kafir itu setelah mereka mati.” (Silsilatu al-Ahaditsi
ash-Shahihah 1/55, h. 57-58). Wallôhu a’lam.
Dikutip dari Majalah As-Sunnah Romadhon-Syawwal
1435 H, hal 5-6. Rubik Baituna. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta.
》Ikov_Bia《




0 komentar