Sudah seharian penuh
sang istri harus bekerja membereskan pekerjaan-pekerjaan rumah, melayani suami,
menjaga mood suami agar selalu bagus, dan seambrek pekerjaan lainnya.
Belum lagi harus begadang semalam kerena menggendong si anak yang rewel.
Sungguh penat, letih, dan capek bercampur jadi satu. Dalam kondisi seperti ini,
terkadang bisa menjadi benih pertikaian rumah tangga yang berkepanjangan,
terlebih khusus saat istri tidak bisa mengungkapkan keletihannya dengan bijak
yang justru akan memicu sang suami kebakaran jenggot.
Bolehkan sang istri
mengeluh akan rasa penat dan lelah yang ia rasakan? Jika boleh, adakah tips
khusus untuk menyampaikan rasa letih dan capek agar tidak memicu percikan api
pertikaian dan ketidakharmonisan? Apakah syari’at Islam mengajarkan kepada para
istri dalam hal ini?
LELAH DAN PENAT PASTI DATANG
Sebelumnya perlu
diketahui, rumah tangga yang ideal dan rumah tangga yang sukses di dunia dan akhirat adalah rumah
tangga yang berpondasikan sakinah, mawaddah, wa rohmah. Sakinah
adalah ketenangan bagi suami, suami yang pulang ke rumah setelah lelah bekerja
seharian penuh mendapatkan ketenangan ketika bertemu dengan istrinya, karena ia
menemukan istrinya yang bermuka ceria, berbicara dengan penuh kelembutan dan
hati yang meluap-luap penuh kerinduan. Mawadaah adalah cinta dan
keakraban, dan akan semakin besar rasa cinta keduanya jika semakin baik perangai
dari keduanya. Adapun rohmah adalah kasih sayang, yaitu buah dari
sakinah dan mawaddah.
Allooh berfirman,
“Dan di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu
sendiri, supaya kamu mendapatkan sakinah, dan menjadikan mawaddah dan rohmah di
antaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
kekuasaan Allooh bagi kaum yang berfikir.” (ar-Rum : 21)
Ayat ini menegaskan,
bahwa tujuan Allooh menciptakan pasangan untuk manusia adalah menciptakan
keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rohmah. Dan ini semua tidak mungkin akan
diraih, kecuali dengan bantuan istri sholihah. Karena hanya dengan istri
sholihahlah rumah tangga dibangun di atas pondasi ini. Karena istri sholihah
adalah istri yang tunduk terhadap perintah-perintah Allooh lagi taat kepada
suaminya.
Jika wanita
betul-betul taat kepada suaminya, maka sesungguhnya wanita tersebut adalah
perhiasan yang paling indah. Nabi Shollalloohu ‘alaihi wasallam
bersabda,
“Dunia
adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah.” (HR.
Muslim, 1467)
Bahkan, istri
sholihah juga merupakan salah satu faktor kebahagiaan sebuah rumah tangga, dan
sebaliknya, jika istri tidak sholihah, maka justru akan menjadi sumber
kesengsaraan sebuah rumah tangga. Nabi Shollalloohu
‘alaihi wasallam bersabda,
“Ada empat hal yang menjadi faktor
kebahagiaan sebuah rumah tangga, yaitu istri yang sholihah, tempat tinggal yang
luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Adapun emapt hal yang
menjadi faktor kesengsaraan adalah tetangga yang buruk, istri yang tidak
sholihah, kendaraan yang buruk, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu
Majah dishohihkan oleh al-Albani)
Namun, apakah
menjadi istri sholihah itu mudah semudah membalik telapak tangan...???
Tentu tidak, karena
istri sholihah adalah yang memiliki sifat-sifat yang dijelaskan oleh Rosululloh
Shollalloohu ‘alaihi wasallam diantaranya,
Dari Abu Hurairoh
berkata, Rosululloh Shollalloohu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, “Wahai
Rosululloh, wanita (istri) mana yang paling baik?”, Beliau Shollalloohu
‘alaihi wasallam menjawab,”yang membahagiakan suaminya jika ia
melihatnya, yang menaati suaminya jika ia memberikan perintah, dan yang tidak
menyelisihi suaminya dengan yang dibenci oleh suami baik berkaitan dengan
dirinya atau harta suaminya.” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i dab dihasankan
oleh al-Albani dalam Irwa’)
Dalam hadits lain,
Nabi Muhammad Shollalloohu ‘alaihi wasallam menjelaskan,
“Apabila seseorang wanita menjalankan
sholat lima waktu, puasa di bulan Romadhon, menjaga kemaluannya, dan menaati
suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu surga yang ia kehendaki.”
(HR. Ibnu Hibban dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih Ibnu
Hibban)
Jadi, rasa penat dan
letih adalah suatu hal yang pasti, karena untuk mendapatkan surga Allooh
tentunya tidak semudah yang kita bayangkan, membutuhkan tenaga lebih,
pengorbanan dan kesabaran. Bukankah Nabi Shollalloohu ‘alaihi wasallam
menegaskan, “Surga itu dikelilingi oleh perkara-perkara yang dibenci dan
neraka itu dikelilingi oleh perkara-perkara yang disukai hawa nafsu.” (HR,
at-Tirmidzi dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih Jami’ no
3147)
LALU, APA YANG HARUS IA LAKUKAN...??? BOLEHKAH MENGUNGKAPAKAN
KEPENATAN KEPADA SUAMINYA...??? DAN BAGAIMANA CARANYA?_?
Pertama, istri harus bersabar dalam menja
lanakan semua,
karena sabar itu ada tiga macam, yaitu sabar dalam menjalankan perintah,
salabar dalam meninggalkan larangan, dan sabar menghadapi takdir yang tidak
sesuai dengan keinginan.
Berbahagialah orang
yang sabar, sungguh Allooh akan membalas kepada orang yang bersabar dengan
pahala yang tidak terhingga karena banyaknya.
Allooh berfirman,
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang
bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (az Zummar : 10)
Bahkan rasa letih
yang telah ia rasakan, jika ia menerimanya dengan penuh kesabaran dan
keikhlasan niscaya akan menghapus dosa-dosanya. Rosululloh Shollalloohu
‘alaihi wasallam,
“tidaklah seorang muslim ditimpa oleh
kepenatan, kegundahan, kesedihan, gangguan, bahkan jika terkena oleh satu duri
pun, niscaya Allooh akan menghapus dosa-dosanya karena itu semua.” (HR. Bukhori)
Kedua, istri harus tetap menjalankan
perintah-perintah suaminya, yaitu selama istri masih bisa menjalankan perintah
suami, dan tidak membahayakan kesehatannya dan selama perintah suami bukan
termasuk maksiat kepada Allooh, maka istri harus menaati suaminya.
Rosululloh Shollalloohu
‘alaihi wasallam menegaskan,
“Apabila seorang suami mengajak istrinya,
maka ia harus memenuhi panggilan suaminya meskipun ia sedang berada di dapur.” (HR. Ibnu Hibban dan dishohihkan
al Albani dalam Shohih Ibnu Hibban)
“Tidak ada ketaatan untuk makhluk dalam
maksiat kepada Allooh Ta’ala” (HR. Ahmad)
Ketiga, tidak mengapa jika istri ingin
memberitahu kepada suaminya bahwa ia sedang lelah dan letih. Bahkan hal itu
justru bisa menjadi bumbu keharmonisan rumah tangga dan semakin memperkuat
empati masing-masing pasangan. Sungguh indah jika sang suami memahami bahwa
istrinya sedang lelah, lalu ia pun tidak enggan untuk sedikit memijitnya dan
memberikan pada istrinya refresing.
Namun, rasa letih
sang istri ini bisa menjadi bumbu keharmonisan jika sang istri bisa
mengungkapkan rasa letihnya dengan bijak. Karena itu, sang istri harus
melakukan beberapa hal ini saat ingin mengungkapkan rasa letihnya, yaitu :
a.
Memilih waktu yang tepat untuk
mengungkapkannya.
b.
Bersikap empati, yaitu memosisikan dirinya pada
situasi perasaan dan pikiran pasangan.
c.
Mengetahui berbagai macam komunikasi, sehingga
ia bisa memilih cara menyampaikan rasa letihnya sesuai kondisi suami, ia bisa
menyampaikan dengan omongan, tulisan, atau mungkin dengan bahasa non verbal.
d.
Menghindari kalimat atau gaya yang menyingung
suami.
e.
Menyampaikan pesan dengan lembut dengan lembut
dan bijak tidak terkesan mengeluh.
Demikian, semoga bermanfaat bagi kita
semua. Aamiin.
》Ikov_Bia《



0 komentar