Muslimah Corner

Saat Istri Kelelahan

Rabu, Desember 30, 2015







Sudah seharian penuh sang istri harus bekerja membereskan pekerjaan-pekerjaan rumah, melayani suami, menjaga mood suami agar selalu bagus, dan seambrek pekerjaan lainnya. Belum lagi harus begadang semalam kerena menggendong si anak yang rewel. Sungguh penat, letih, dan capek bercampur jadi satu. Dalam kondisi seperti ini, terkadang bisa menjadi benih pertikaian rumah tangga yang berkepanjangan, terlebih khusus saat istri tidak bisa mengungkapkan keletihannya dengan bijak yang justru akan memicu sang suami kebakaran jenggot.
Bolehkan sang istri mengeluh akan rasa penat dan lelah yang ia rasakan? Jika boleh, adakah tips khusus untuk menyampaikan rasa letih dan capek agar tidak memicu percikan api pertikaian dan ketidakharmonisan? Apakah syari’at Islam mengajarkan kepada para istri dalam hal ini?
LELAH DAN PENAT PASTI DATANG
Sebelumnya perlu diketahui, rumah tangga yang ideal dan rumah tangga  yang sukses di dunia dan akhirat adalah rumah tangga yang berpondasikan sakinah, mawaddah, wa rohmah. Sakinah adalah ketenangan bagi suami, suami yang pulang ke rumah setelah lelah bekerja seharian penuh mendapatkan ketenangan ketika bertemu dengan istrinya, karena ia menemukan istrinya yang bermuka ceria, berbicara dengan penuh kelembutan dan hati yang meluap-luap penuh kerinduan. Mawadaah adalah cinta dan keakraban, dan akan semakin besar rasa cinta keduanya jika semakin baik perangai dari keduanya. Adapun rohmah adalah kasih sayang, yaitu buah dari sakinah dan mawaddah.
Allooh berfirman,
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu mendapatkan sakinah, dan menjadikan mawaddah dan rohmah di antaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allooh bagi kaum yang berfikir.” (ar-Rum : 21)
Ayat ini menegaskan, bahwa tujuan Allooh menciptakan pasangan untuk manusia adalah menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rohmah. Dan ini semua tidak mungkin akan diraih, kecuali dengan bantuan istri sholihah. Karena hanya dengan istri sholihahlah rumah tangga dibangun di atas pondasi ini. Karena istri sholihah adalah istri yang tunduk terhadap perintah-perintah Allooh lagi taat kepada suaminya.
Jika wanita betul-betul taat kepada suaminya, maka sesungguhnya wanita tersebut adalah perhiasan yang paling indah. Nabi Shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda,
 Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah.” (HR. Muslim, 1467)
Bahkan, istri sholihah juga merupakan salah satu faktor kebahagiaan sebuah rumah tangga, dan sebaliknya, jika istri tidak sholihah, maka justru akan menjadi sumber kesengsaraan sebuah rumah tangga. Nabi  Shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda,
Ada empat hal yang menjadi faktor kebahagiaan sebuah rumah tangga, yaitu istri yang sholihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Adapun emapt hal yang menjadi faktor kesengsaraan adalah tetangga yang buruk, istri yang tidak sholihah, kendaraan yang buruk, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Majah dishohihkan oleh al-Albani)
Namun, apakah menjadi istri sholihah itu mudah semudah membalik telapak tangan...???
Tentu tidak, karena istri sholihah adalah yang memiliki sifat-sifat yang dijelaskan oleh Rosululloh Shollalloohu ‘alaihi wasallam diantaranya,
Dari Abu Hurairoh berkata, Rosululloh Shollalloohu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, “Wahai Rosululloh, wanita (istri) mana yang paling baik?”, Beliau Shollalloohu ‘alaihi wasallam menjawab,”yang membahagiakan suaminya jika ia melihatnya, yang menaati suaminya jika ia memberikan perintah, dan yang tidak menyelisihi suaminya dengan yang dibenci oleh suami baik berkaitan dengan dirinya atau harta suaminya.” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i dab dihasankan oleh al-Albani dalam Irwa’)
Dalam hadits lain, Nabi Muhammad Shollalloohu ‘alaihi wasallam menjelaskan,
Apabila seseorang wanita menjalankan sholat lima waktu, puasa di bulan Romadhon, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu surga yang ia kehendaki.” (HR. Ibnu Hibban dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih Ibnu Hibban)
Jadi, rasa penat dan letih adalah suatu hal yang pasti, karena untuk mendapatkan surga Allooh tentunya tidak semudah yang kita bayangkan, membutuhkan tenaga lebih, pengorbanan dan kesabaran. Bukankah Nabi Shollalloohu ‘alaihi wasallam menegaskan, “Surga itu dikelilingi oleh perkara-perkara yang dibenci dan neraka itu dikelilingi oleh perkara-perkara yang disukai hawa nafsu.” (HR, at-Tirmidzi dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohih Jami’ no 3147)
LALU, APA YANG HARUS IA LAKUKAN...??? BOLEHKAH MENGUNGKAPAKAN KEPENATAN KEPADA SUAMINYA...??? DAN BAGAIMANA CARANYA?_?
Pertama, istri harus bersabar dalam menja
lanakan semua, karena sabar itu ada tiga macam, yaitu sabar dalam menjalankan perintah, salabar dalam meninggalkan larangan, dan sabar menghadapi takdir yang tidak sesuai dengan keinginan.
Berbahagialah orang yang sabar, sungguh Allooh akan membalas kepada orang yang bersabar dengan pahala yang tidak terhingga karena banyaknya.
Allooh berfirman,
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (az Zummar : 10)
Bahkan rasa letih yang telah ia rasakan, jika ia menerimanya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan niscaya akan menghapus dosa-dosanya. Rosululloh Shollalloohu ‘alaihi wasallam,
“tidaklah seorang muslim ditimpa oleh kepenatan, kegundahan, kesedihan, gangguan, bahkan jika terkena oleh satu duri pun, niscaya Allooh akan menghapus dosa-dosanya karena itu semua.” (HR. Bukhori)
Kedua, istri harus tetap menjalankan perintah-perintah suaminya, yaitu selama istri masih bisa menjalankan perintah suami, dan tidak membahayakan kesehatannya dan selama perintah suami bukan termasuk maksiat kepada Allooh, maka istri harus menaati suaminya.
Rosululloh Shollalloohu ‘alaihi wasallam menegaskan,
“Apabila seorang suami mengajak istrinya, maka ia harus memenuhi panggilan suaminya meskipun ia sedang berada di dapur.” (HR. Ibnu Hibban dan dishohihkan al Albani dalam Shohih Ibnu Hibban)
“Tidak ada ketaatan untuk makhluk dalam maksiat kepada Allooh Ta’ala” (HR. Ahmad)
Ketiga, tidak mengapa jika istri ingin memberitahu kepada suaminya bahwa ia sedang lelah dan letih. Bahkan hal itu justru bisa menjadi bumbu keharmonisan rumah tangga dan semakin memperkuat empati masing-masing pasangan. Sungguh indah jika sang suami memahami bahwa istrinya sedang lelah, lalu ia pun tidak enggan untuk sedikit memijitnya dan memberikan pada istrinya refresing.
Namun, rasa letih sang istri ini bisa menjadi bumbu keharmonisan jika sang istri bisa mengungkapkan rasa letihnya dengan bijak. Karena itu, sang istri harus melakukan beberapa hal ini saat ingin mengungkapkan rasa letihnya, yaitu :
a.    Memilih waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.
b.    Bersikap empati, yaitu memosisikan dirinya pada situasi perasaan dan pikiran pasangan.
c.    Mengetahui berbagai macam komunikasi, sehingga ia bisa memilih cara menyampaikan rasa letihnya sesuai kondisi suami, ia bisa menyampaikan dengan omongan, tulisan, atau mungkin dengan bahasa non verbal.
d.    Menghindari kalimat atau gaya yang menyingung suami.
e.    Menyampaikan pesan dengan lembut dengan lembut dan bijak tidak terkesan mengeluh.
Demikian, semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.


Ikov_Bia

You Might Also Like

0 komentar