Manhaj

Menebar Cahaya dengan Pena

Kamis, Januari 28, 2016



Goresan pena sering kali tajam dibandingkan goresan pedang di medan perang. Telah banyak hati yang lalai jadi tersadar dengan goresan pena bukan kilatan pedang

Selesai bersyahadat dan mengenal Islam, para shahabat bergerak untuk menyebarkan dakwah kepada masyarakat ke berbagai pelosok. Mereka mengabarkan Islam yang indah pada orang lain. Keinginan mereka adalah agar manusia menerima kebaikan yang sama seperti yang telah mereka dapatkan. Mereka tak mundur karena banyaknya rintangan, tak menyerah karna terjalnya jalan dan tak ciut nyali karena banyaknya musuh yang mengancam. Keutamaan dan kedudukan tinggi di sisi Allooh Ta’ala yang mereka ingini. Diantara mereka adalah Ali ibn Abu Tholib radhiyaa Alloohu ‘anhu yang selalu terngiang ditelinganya pesan Nabi Muhammad Shallalloohu ‘alaihi wasallam

jika Allooh Ta’ala memberikan hidayah melalui tanganmu seorang saja, itu lebih baik bagimu daripada onta-onta merah (HR. Bukhori)

Semangat dakwah yang tak pernah luntur termasuk perkara yang indah yang dapat dipetik dari para shahabat. Semangat dakwah ini selanjutnya diwarisi oleh generasi berikutnya yanitu tabi’in dan generasi shalih setelahnya. Mulai tersebarnya sarana penulisan dan percetakan dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh kaum muslimin untuk menyebarkan ajaran Islam. Para ulama Islam adalah pribadi yang serius dan bersungguh-sungguh menggunakan penulisan ini sebagai sarana dakwahnya. Kesabaran dan ketekunan mereka dalam menulis luar biasa. Sebut saja diantara mereka ada Abu Ubaid yang bersabar selama 40 tahun menulis kitab “Gharibul Hadits”. Ada pula Ibnu Abdil Barr, selama 30 tahun menulis “at-Tahmid”. Demikian pula Ibnu Hajar tekun 23 tahun menulis “Fathul Bari”. Dunia menulis mereka manfaatkan untuk menyebar ilmu pengetahuan.

Masa kini, media informasi didongkrak manfaatnya untuk sarana dakwah. Ilmu pun lebih mudah tersevar secara luas ke seluruh penjuru dunia. Seorang da’i Islam bahkan ada yang menulis dengan tulisan dakwah di media sosial twitter. Tahukah berapa jumlah followersnya...???? 650 ribu orang. Artinya satu saja tulisan kebaikannya akan dibaca oleh ratusan ribu orang. Alloohu Akbar.

BAGAIMANA KITA...???

Menulis adalah sarana berdakwah yang bisa bertahan lama untuk dikmati orang lain. Menulis adalah cara termudah untuk berkomunikasi dengan orang yang jauh, menyampaiakan buah pemikiran dan kebaikan pada orang lain. Hari ini, sebenarnya setiap kita biasa menulis. Paling tidak orang menulis sms, bercuap di twitter, BBM, atau sosial media lainnya. Di sekolah atau di ma’had, seorang pun sudah lazim menulis. Saking banyak tulisan, ternyata masih sedikit orang yang memanfaatkannya sebagai sarana berdakwah. Kebanyakan isi pesan sms malah hal yang sia-sia atau tak jarang berisi maksiat saja. Padahal kalau setiap pemuda menggunakan alat komunikasinya untuk menebarkan kebaikan niscaya dakwah akan semakin semarak. Kebaikan akan menjadi trending topic dalam setiap pembicaraan. Keburukan akan menjadi hal yang dibenci dan dijauhi. Misalnya saja, berikan sms nasihat dengan menukil ayat maupun hadits Rosululloh Shallalloohu ‘alaihi wasallam.

Kamu bisa membuat blog dakwah, tulisan di buletin, atau mengupload status yang berisi nasihat-nasihat kebaikan kepada teman-teman. Jangan dikira bahwa sepatah dua patah nasihat ini tidak ada manfaatnya. Karena keberkahan dari Allooh, boleh jadi satu kalimat menjadi sebab orang lain terhidayahi. Jangan mau kalah dengan orang-orang yang gencar menyebarkan kebathilan, penyimpangan, dosa, dan maksiat. Meski demikian, agar dakwah lewat tulisan lebih banyak membawa pada kebaikan, setiap penulis dakwah mesti membekalinya dengan keikhlasan. Lakukan aktivitas dakwah tersebut ikhlas karen mengharap ridho Allooh Ta’ala semata. Bukan ingin mendapatkan balasan materi, pujian, atau bagian lain dari dunia. Banyak amalan yang dianggap kecil dengan keikhlasan menjadi  besar disisi Allooh Ta’ala. Begitu orang yang menggoreskan pena dakwah semestinya berbekal diri dengan ilmu. Ilmu ibarat senjata yang kita gunakan dalam medan peperangan. Tanpa bekal ilmu maka seolah kita sedang terjun ke medan perang dengan tangan kosong padahal lawanmu telah menggunakan berbagai macam jenis persenjataan. Penulis kudu jadi orang yang melek pengetahuan. Selalu haus akan ilmu, gemar belajar, suka membaca dan dekat-dekat dengan Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallalloohu ‘alaihi wasallam.

Demikian pula teknik menulis juga perlu dimiliki oleh seseorang yang berdakwah. Jangan sampai terjadi, tulisan dakwah malah membuat bingung orang lantaran kurang bagusnya pemilihan kata. Lebih-lebih lagi bila ternyata tulisannya ternyata malah membuat orang lain salah paham. Tentu tujuan dakwah tidak bisa tersampaikan. Siapa yang berdakwah sesungguhnya dia sedang mengajak orang pada Allooh Ta’ala. Maka sudah selayaknya para penggores pena dakwah menjadi orang yang selalu mendekat pada-Nya, terlebih dahulu sebelum yang lain.



Ps : Merepost dari Majalah Elfata Edisi 11 Vol. 14 Tahun 2014

Ikov_Bia

You Might Also Like

0 komentar