Goresan
pena sering kali tajam dibandingkan goresan pedang di medan perang. Telah
banyak hati yang lalai jadi tersadar dengan goresan pena bukan kilatan pedang
Selesai bersyahadat dan mengenal Islam, para shahabat bergerak
untuk menyebarkan dakwah kepada masyarakat ke berbagai pelosok. Mereka
mengabarkan Islam yang indah pada orang lain. Keinginan mereka adalah agar
manusia menerima kebaikan yang sama seperti yang telah mereka dapatkan. Mereka
tak mundur karena banyaknya rintangan, tak menyerah karna terjalnya jalan dan
tak ciut nyali karena banyaknya musuh yang mengancam. Keutamaan dan kedudukan
tinggi di sisi Allooh Ta’ala yang mereka ingini. Diantara mereka adalah
Ali ibn Abu Tholib radhiyaa Alloohu ‘anhu yang selalu terngiang
ditelinganya pesan Nabi Muhammad Shallalloohu ‘alaihi wasallam
“jika Allooh Ta’ala memberikan hidayah melalui tanganmu seorang saja, itu lebih baik bagimu daripada onta-onta merah” (HR. Bukhori)
Semangat dakwah yang tak pernah luntur termasuk perkara yang indah
yang dapat dipetik dari para shahabat. Semangat dakwah ini selanjutnya diwarisi
oleh generasi berikutnya yanitu tabi’in dan generasi shalih setelahnya. Mulai
tersebarnya sarana penulisan dan percetakan dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh
kaum muslimin untuk menyebarkan ajaran Islam. Para ulama Islam adalah pribadi
yang serius dan bersungguh-sungguh menggunakan penulisan ini sebagai sarana
dakwahnya. Kesabaran dan ketekunan mereka dalam menulis luar biasa. Sebut saja
diantara mereka ada Abu Ubaid yang bersabar selama 40 tahun menulis kitab
“Gharibul Hadits”. Ada pula Ibnu Abdil Barr, selama 30 tahun menulis
“at-Tahmid”. Demikian pula Ibnu Hajar tekun 23 tahun menulis “Fathul Bari”.
Dunia menulis mereka manfaatkan untuk menyebar ilmu pengetahuan.
Masa kini, media informasi didongkrak manfaatnya untuk sarana
dakwah. Ilmu pun lebih mudah tersevar secara luas ke seluruh penjuru dunia.
Seorang da’i Islam bahkan ada yang menulis dengan tulisan dakwah di media
sosial twitter. Tahukah berapa jumlah followersnya...???? 650 ribu orang.
Artinya satu saja tulisan kebaikannya akan dibaca oleh ratusan ribu orang.
Alloohu Akbar.
BAGAIMANA
KITA...???
Menulis adalah sarana berdakwah yang bisa bertahan lama untuk
dikmati orang lain. Menulis adalah cara termudah untuk berkomunikasi dengan
orang yang jauh, menyampaiakan buah pemikiran dan kebaikan pada orang lain.
Hari ini, sebenarnya setiap kita biasa menulis. Paling tidak orang menulis sms,
bercuap di twitter, BBM, atau sosial media lainnya. Di sekolah atau di ma’had,
seorang pun sudah lazim menulis. Saking banyak tulisan, ternyata masih sedikit
orang yang memanfaatkannya sebagai sarana berdakwah. Kebanyakan isi pesan sms
malah hal yang sia-sia atau tak jarang berisi maksiat saja. Padahal kalau
setiap pemuda menggunakan alat komunikasinya untuk menebarkan kebaikan niscaya
dakwah akan semakin semarak. Kebaikan akan menjadi trending topic dalam
setiap pembicaraan. Keburukan akan menjadi hal yang dibenci dan dijauhi.
Misalnya saja, berikan sms nasihat dengan menukil ayat maupun hadits Rosululloh
Shallalloohu ‘alaihi wasallam.
Kamu bisa membuat blog dakwah, tulisan di buletin, atau mengupload
status yang berisi nasihat-nasihat kebaikan kepada teman-teman. Jangan dikira
bahwa sepatah dua patah nasihat ini tidak ada manfaatnya. Karena keberkahan
dari Allooh, boleh jadi satu kalimat menjadi sebab orang lain terhidayahi.
Jangan mau kalah dengan orang-orang yang gencar menyebarkan kebathilan,
penyimpangan, dosa, dan maksiat. Meski demikian, agar dakwah lewat tulisan
lebih banyak membawa pada kebaikan, setiap penulis dakwah mesti membekalinya
dengan keikhlasan. Lakukan aktivitas dakwah tersebut ikhlas karen mengharap
ridho Allooh Ta’ala semata. Bukan ingin mendapatkan balasan materi,
pujian, atau bagian lain dari dunia. Banyak amalan yang dianggap kecil dengan
keikhlasan menjadi besar disisi Allooh Ta’ala.
Begitu orang yang menggoreskan pena dakwah semestinya berbekal diri dengan
ilmu. Ilmu ibarat senjata yang kita gunakan dalam medan peperangan. Tanpa bekal
ilmu maka seolah kita sedang terjun ke medan perang dengan tangan kosong
padahal lawanmu telah menggunakan berbagai macam jenis persenjataan. Penulis
kudu jadi orang yang melek pengetahuan. Selalu haus akan ilmu, gemar belajar,
suka membaca dan dekat-dekat dengan Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallalloohu
‘alaihi wasallam.
Demikian pula teknik menulis juga perlu dimiliki oleh seseorang
yang berdakwah. Jangan sampai terjadi, tulisan dakwah malah membuat bingung
orang lantaran kurang bagusnya pemilihan kata. Lebih-lebih lagi bila ternyata
tulisannya ternyata malah membuat orang lain salah paham. Tentu tujuan dakwah
tidak bisa tersampaikan. Siapa yang berdakwah sesungguhnya dia sedang mengajak
orang pada Allooh Ta’ala. Maka sudah selayaknya para penggores pena dakwah
menjadi orang yang selalu mendekat pada-Nya, terlebih dahulu sebelum yang lain.
Ps : Merepost dari Majalah Elfata Edisi 11 Vol. 14 Tahun 2014
》Ikov_Bia《




0 komentar