Membelanjakan
nikmat adalah kepastian bagi kita bersyukur terhadap nikmat Allooh Ta’ala. Orang yang tidak mau bersyukur itulah manusia yang tertipu...
Namun
tahukah kita bahwa semua nikmat yang kita terima akan dipertanyakan oleh Allooh
Ta’ala...??? apakah kita telah menyukurinya,
atau malah menjadi orang yang tertipu hingga jadinya kufur nikmat. Tidak
sedikit manusia yang diberi nikmat, tapi sayangnya nikmat tersebut disalurkan
untuk kemaksiatan.
Allooh Ta’ala berfirman :
“kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan
(yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”
(QS : At-Takatsur : 08)
Sehat, ditanya
Dari
sekian nikmat, ada satu nikmat yang pertama kali akan dipertanyakan pada hamba
dihari kiamat nanti. Nikmat sehat namanya. Rosulullooh Shallalloohu ‘alaihi wasallam telah
menjelaskan :
إِنَّ
أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي الْعَبْدَ مِنْ
النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيَكَ مِنْ
الْمَاءِ الْبَارِدِ
“sesungguhnya nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali
pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan : “bukankah Kami telah
memberikan kesehatan pada badanmu yang telah memberikan padamu air ang
menyegarkan?”
(HR. at-Tirmidzi, Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini
shohih)
Kemana
nikmat sehat yang telah kita belanjakan...??? apakah untuk berfoya-foya di
dunia...??? ataukah dimanfaatkan untuk ketaatan dijalan-Nya...??? namun sungguh
disayangkan, kebanyakan orang telah lalai dari nikmat sehat,
نِعْمَتَانِ
مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat
dan waktu senggang.”
(HR. al-Bukhori)
Banyak nikmat
Nikmat
itu ada dalam badan yang sehat dan nikmat itu terdapat pada pendengaran dan
penglihatan yang prima. Allooh Ta’ala kelak akan menanyakan mengenai nikmat
tersebut apakah dimanfaatkan... Allooh Ta’ala yang pasti mengetahui hal itu. Karena Allooh Ta’ala berfirman,
“sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan
dimintai pertanggung jawabanya.”
(QS :Al-Isra’ :36)
Bukan itu
saja masih begitu banyak nikmat lainnya yang telah kita terima, dalam sebagian
riwayat dikatakan,
“betapa banyak nikmat Allooh yang terdapat dalam pembuluh darah
kita”
(Jaami’ul ‘Ulum wal Hikmah, 02 : 76)
Namun
sangat sedikit orang yang mau merenungkan hal ini. Kebanyakan hanya melihat
bahwa nikmat itu hanya berupa harta, uang, dan duit. Padahal kesehatan adalah
nikmat berharga yang patut disyukuri dan masih ada nikmat lainnya.
Sebagaimana
keterangan dari Ibnu Rajab dalam Jaami’ul
‘Ulum (02 : 82), bahkan nikmat itu ada dua macam, nikmat diniyyah dan nikmat
duniawiyyah. Keadaan selamat, terhindar dari bahaya, kesehatan dan rizki adalah
nikmat duniawiyyah. Sedang syukur dangan mengucapakan “alhamdulillah” itupun nikmat. Nikmat duniawiyyah dan diniyyah sama-sama adalah
nikmat dari Allooh Ta’ala. Kata Ibnu Rajab dan ini patut digaris
bawahi,
“akan tetapi nikmat Allooh Ta’ala pada hamba dengan memberi hidayah
untuk bersyukur terhadap nikmat dengan mengucapkan ‘alhamdulillah’ lebih afdhol
dari nikmat duniawiyyah yang diberikan pada hamba. Karena nikmat duniawiyyah,
jika tidak dikaitkan dengan syukur, maka itu malah jadi musibah.”
Sebagimana
kata Ibnu Hazm,
“setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada
Allooh Ta’ala, itu hanyalah musibah.”
(Jaami’ul ‘Ulum wal Hikmah, 02 :82)
Lalu
perhatikan lagi perkataan Ibnu Rajab selanjutnya,
“jika Alloh Ta’ala memberi taufik pada seorang hamba untuk
bersyukur atas nikmat duniawiyya dengan mengucapkan ‘alhamdulillah’ atau dengan
melalukan bentuk syukur lainnya, maka nikmat diniyyah ini sendiri adalah lebih
baik dari nikmat duniawiyyah tersebut dan nikmat diniyyah lebih dicintai di
sisi Allooh Ta’ala. Karena Allooh Ta’ala sangat mencintai orang yang rajin
menyanjung-Nya. Allooh Ta’ala semakin ridho jika hamba diberi makan, lalu
memuji Allooh Ta’ala atas nikmat tersebut, begitu pula ketika ia minum dan ia
pun memuji Allooh Ta’ala.Dan pujian Allooh Ta’ala terhadap nikmat dan bentuk
pujian mereka atas nikmat lebih dicintai
oleh Allooh Ta’ala dari harta mereka sendiri.
(lih. Jaami’ul ‘Ulum wal Hikmah, 02 : 82-83)
Bersyukur,
beruntung
Allooh Ta’ala menjelaskan bahwa orang yang banyak bersyukur akan subur alias
beruntung karena akan mendapat balasan yang lebih baik dari-Nya
“dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”
(QS : Ali-Imran : 145)
“dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan : ‘sesungguhnya
jika kamu benar bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika
kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS : Ibrahim : 07)
Demikianlah,
nikmat yang tak henti-henti dan bertubi telah diberikan kepada kita. Semoga
kita dapat membelanjakan semua nikmat dalam kebaikan, dengan mengakui dalam
hati bahwa itu nikmat dari Allooh Ta’ala, mengucap hamdalah dengan lisan ini, dan
memanfaatkan nikmat tersebut dalam kebaikan dan taat, bukan dosa dan maksiat.
Semoga !!!
》Ikov_Bia《



0 komentar