Manhaj

Membelanjakan Nikmat

Rabu, Maret 09, 2016




Membelanjakan nikmat adalah kepastian bagi kita bersyukur terhadap nikmat Allooh Ta’ala. Orang yang tidak mau bersyukur itulah manusia yang tertipu...
Namun tahukah kita bahwa semua nikmat yang kita terima akan dipertanyakan oleh Allooh Ta’ala...??? apakah kita telah menyukurinya, atau malah menjadi orang yang tertipu hingga jadinya kufur nikmat. Tidak sedikit manusia yang diberi nikmat, tapi sayangnya nikmat tersebut disalurkan untuk kemaksiatan.
Allooh Ta’ala berfirman :

“kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” 

(QS : At-Takatsur : 08)

Sehat, ditanya

Dari sekian nikmat, ada satu nikmat yang pertama kali akan dipertanyakan pada hamba dihari kiamat nanti. Nikmat sehat namanya. Rosulullooh Shallalloohu ‘alaihi wasallam telah 
menjelaskan :

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي الْعَبْدَ مِنْ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيَكَ مِنْ الْمَاءِ الْبَارِدِ

“sesungguhnya nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan : “bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu yang telah memberikan padamu air ang menyegarkan?” 

(HR. at-Tirmidzi, Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Kemana nikmat sehat yang telah kita belanjakan...??? apakah untuk berfoya-foya di dunia...??? ataukah dimanfaatkan untuk ketaatan dijalan-Nya...??? namun sungguh disayangkan, kebanyakan orang telah lalai dari nikmat sehat, 

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” 
(HR. al-Bukhori)

Banyak nikmat

Nikmat itu ada dalam badan yang sehat dan nikmat itu terdapat pada pendengaran dan penglihatan yang prima. Allooh Ta’ala kelak akan menanyakan mengenai nikmat tersebut apakah dimanfaatkan... Allooh Ta’ala yang pasti mengetahui hal itu. Karena Allooh Ta’ala berfirman,

“sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabanya.” 

(QS :Al-Isra’ :36)

Bukan itu saja masih begitu banyak nikmat lainnya yang telah kita terima, dalam sebagian riwayat dikatakan, 

“betapa banyak nikmat Allooh yang terdapat dalam pembuluh darah kita”

(Jaami’ul ‘Ulum wal Hikmah, 02 : 76)

Namun sangat sedikit orang yang mau merenungkan hal ini. Kebanyakan hanya melihat bahwa nikmat itu hanya berupa harta, uang, dan duit. Padahal kesehatan adalah nikmat berharga yang patut disyukuri dan masih ada nikmat lainnya.
Sebagaimana keterangan dari Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Ulum (02 : 82), bahkan nikmat itu ada dua macam, nikmat diniyyah dan nikmat duniawiyyah. Keadaan selamat, terhindar dari bahaya, kesehatan dan rizki adalah nikmat duniawiyyah. Sedang syukur dangan mengucapakan “alhamdulillah” itupun nikmat. Nikmat duniawiyyah dan diniyyah sama-sama adalah nikmat dari Allooh Ta’ala. Kata Ibnu Rajab dan ini patut digaris bawahi,

“akan tetapi nikmat Allooh Ta’ala pada hamba dengan memberi hidayah untuk bersyukur terhadap nikmat dengan mengucapkan ‘alhamdulillah’ lebih afdhol dari nikmat duniawiyyah yang diberikan pada hamba. Karena nikmat duniawiyyah, jika tidak dikaitkan dengan syukur, maka itu malah jadi musibah.”

Sebagimana kata Ibnu Hazm,

“setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allooh Ta’ala, itu hanyalah musibah.”

(Jaami’ul ‘Ulum wal Hikmah, 02 :82)

Lalu perhatikan lagi perkataan Ibnu Rajab selanjutnya,

“jika Alloh Ta’ala memberi taufik pada seorang hamba untuk bersyukur atas nikmat duniawiyya dengan mengucapkan ‘alhamdulillah’ atau dengan melalukan bentuk syukur lainnya, maka nikmat diniyyah ini sendiri adalah lebih baik dari nikmat duniawiyyah tersebut dan nikmat diniyyah lebih dicintai di sisi Allooh Ta’ala. Karena Allooh Ta’ala sangat mencintai orang yang rajin menyanjung-Nya. Allooh Ta’ala semakin ridho jika hamba diberi makan, lalu memuji Allooh Ta’ala atas nikmat tersebut, begitu pula ketika ia minum dan ia pun memuji Allooh Ta’ala.Dan pujian Allooh Ta’ala terhadap nikmat dan bentuk pujian mereka atas nikmat lebih  dicintai oleh Allooh Ta’ala dari harta mereka sendiri. 

(lih. Jaami’ul ‘Ulum wal Hikmah, 02 : 82-83)
Bersyukur, beruntung


Allooh Ta’ala menjelaskan bahwa orang yang banyak bersyukur akan subur alias beruntung karena akan mendapat balasan yang lebih baik dari-Nya

“dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” 

(QS : Ali-Imran : 145)

“dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan : ‘sesungguhnya jika kamu benar bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” 

(QS : Ibrahim : 07)

Demikianlah, nikmat yang tak henti-henti dan bertubi telah diberikan kepada kita. Semoga kita dapat membelanjakan semua nikmat dalam kebaikan, dengan mengakui dalam hati bahwa itu nikmat dari Allooh Ta’ala, mengucap hamdalah dengan lisan ini, dan memanfaatkan nikmat tersebut dalam kebaikan dan taat, bukan dosa dan maksiat. Semoga !!!


Ikov_Bia

You Might Also Like

0 komentar