Malam ini aku bercengkerama dengan gerimis, yang rintiknya sejak tadi seolah memuisikan sebuah rasa yang membersamai jarak. Rindu.
Sebut saja aku pecundang dan kamu pemenang.
Melupakanmu ternyata bukan hal yang gampang. Waktu yang sudah kulewati
ternayata sudah tak terbilang. Mengikhlaskanmu masih belum kutemukan jalan
terang. Pergi darimu, belum juga kutemui arah pulang.
Di hari kesekian setelah aku mulai kehabisan makna, kamu
mendekat dengan hati penuh doa.
Aku seperti dahaga di gurun pasir ternama, kamu melangkah dengan tatapan sedalam samudera.
Aku seperti dahaga di gurun pasir ternama, kamu melangkah dengan tatapan sedalam samudera.
Sebenarnya aku tak tahu alasanmu memilih. Jika paras yang kamu nilai, standar cantik rasanya masih jauh sekali.
Beberapa hal, ada baiknya tetap kita
sembunyikan. Untuk menjaga hati dari rasa kecewa, atau menjaga hati seseorang
dari rasa tidak nyaman yang muncul tiba-tiba.
Saat itu aku percaya
bahwa meninggalkanmu adalah keputusan terbaik. Dengan segala macam debat yang
tak kunjung usai, meletakkan kita dalam ujung cerita adalah satu-satunya cara
untuk memperbaiki. Bukan, mungkin lebih tepatnya, melepaskan yang tak mampu kita
rangkai utuh kembali.
Aku pernah berjalan pada suatu jalan yang
awalnya begitu mulus. Ditemani oleh seseorang yang aku cintai begitu tulus. Saat
itu, aku merasa waktu begitu cepat berlalu, detik demi detiknya tidak pernah
bergitu terdengar, semuanya larut dalam binar-binar kebahagiaan.
Suatu hari nanti kamu akan mencariku. Aku
yang dulu yang selalu ada kapanpun dan dimanapun. Karena pergi menjadi pilihan
yang menarik bagimu. Sudahkah kamu berbincang dengan dirimu sendiri, sayangku? Sudahkah
kamu bertanya pada hatimu tentang aku? Janganlah memelas menyesali kekhilafanmu
di depanku, kelak.














